Perawat Indonesia Tak Perlu “Galau dengan Gaji Anda”, Solusinya Disini.

Perawat Indonesia Tak Perlu "Galau dengan Gaji Anda", Solusinya Disini.

Jakarta, FarkesOnline – Sejak jaman dulu, masyarakat Indonesia mengenal istilah untuk orang upahan atau pekerja di dalam berbagai kata; mulai dari buruh, karyawan, pegawai, dan lain-lain. Meskipun pada dasarnya semua kata-kata tersebut memiliki kesamaan arti, yaitu manusia yang menggunakan kemampuannya untuk mendapatkan upah atau imbalan dari orang lain atau pemberi kerja, namun penyebutannya diklasifikasikan menjadi dua yaitu buruh kerah putih dan buruh kerah biru.

Kerah biru acap kali digunakan untuk menempelkan stigma bahwa “buruh” adalah pekerja rendahan, hina, kasar, dan sebagainya. Sementara itu, “kerah putih” diklasifikasikan sebagai pekerja yang lebih halus dan tidak banyak menggunakan otot.

Namun, pada kenyataannya masih ada buruh-buruh kerah putih yang “galau” meneriakkan nasibnya, dan belum menemukan cara yang tepat untuk memperjuangkan kesejahteraannya. Sebut saja, profesi perawat yang sejatinya enggan disamakan dengan buruh kerah biru, namun tidak jarang upahnya justru lebih rendah dari buruh kerah biru.

Keluhan-keluhan terkait dengan upah yang rendah yang tidak sebanding dengan biaya besar yang dikeluarkan untuk mendapat ijazah sebagai seorang perawat, sering bermunculan di jagat maya media sosial dan blog-blog tertentu. Dan keluhan itu hanya menguap begitu saja tanpa tanggapan.

Perawat juga “buruh”

Untuk menjawab kegalauan di atas, maka diperlukan keseragaman pemahaman tentang “buruh”. Mau tidak mau perawat harus mengakui bahwa dirinya adalah juga buruh. Baik kerah putih maupun biru, keduanya sama-sama mendapat imbalan atau upah dari pemberi kerja atas pekerjaan yang dilakukannya.

Dan dalam kaitan syarat-syarat dan hubungan kerja, baik buruh kerah putih maupun buruh kerah biru, keduanya berada dalam payung hukum yang sama yaitu undang-undang ketenagakerjaan. Maka, dari situlah dapat disimpulkan bahwa berdasarkan undang-undang perawat adalah buruh.

Memang betul, ada Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 yang mengatur tentang Keperawatan. Namun, kembali lagi ketika perawat berhadapan dengan persoalan bukan profesi, atau dengan kata lain ketika perawat ingin berbicara dan menyerukan perihal syarat-syarat kerja dan atau perihal kesejahteraan pekerja maka lembaga yang paling tepat adalah serikat pekerja; dimana perawat dapat secara legal melakukan negosiasi dengan pemberi kerja (dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh asosiasi profesi).

Saatnya bergabung dengan serikat pekerja

FSP FARKES-R, sebagai serikat pekerja sektoral yang salah satunya terdiri atas sektor kesehatan, tidak menampik kenyataan bahwa ada tantangan yang besar untuk mengorganisir para perawat ini. Tidak lain, hal ini disebabkan karena stigma soal “buruh” yang sudah terlanjur kuat di dalam masyarakat Indonesia tadi. Perawat yang tergabung dalam asosiasi profesi ini kemudian enggan disamakan dengan buruh.

Perlu diketahui, peran dan fungsi asosiasi profesi dan serikat pekerja adalah berbeda. Di satu sisi, asosiasi profesi mengelola profesionalitas kerja perawat. Dan di sisi lainnya, serikat pekerja mengelola kesejahteraan perawat/pekerja. Sehingga, sekalipun perawat telah menjadi anggota asosiasi profesi, maka ia dapat dibenarkan menjadi anggota serikat pekerja.

Sehingga seorang perawat tidak perlu ragu untuk bergabung dan berjuang bersama serikat pekerja, tanpa terganggu oleh penilaian masyarakat yang tidak terbukti bahwa keberadaan serikat pekerja hanya menjadi “masalah” di dalam rumah sakit. Selama kedua belah pihak, yaitu pekerja/serikat pekerja dan pemberi kerja/rumah sakit, mengakui dan menghargai hak dan kewajibannya masing-masing, maka kondisi kerja yang kondusif dapat dijadikan jaminan dan produktifitas pelayanan rumah sakit dapat terjaga.

Perawat Anggota FSP FARKES-R

Jika Anda adalah seorang perawat yang bekerja dan menerima upah dari orang lain atau pemberi kerja, dan Anda belum tergabung di dalam sebuah serikat pekerja, maka saat ini adalah saat yang tepat untuk Anda bergabung dan berjuang di dalam organisasi serikat pekerja.

Tindakan menghujat (contoh, di media sosial) bahwa buruh sebagai kalangan pekerja yang tidak tahu diri dan hanya menghendaki kenaikan upah belaka, sejatinya bukan lah sebuah jawaban yang tepat untuk persoalan gaji perawat yang diakui rendah selama ini. Perawat juga memiliki hak yang sama untuk memperjuangkan hak-haknya. Namun perlu dicatat, bahwa hak itu hanya bisa didapat melalui keberadaannya sebagai anggota serikat pekerja. Tunggu apa lagi? Segeralah bergabung dengan serikat pekerja!

Berikut adalah Pimpinan Unit Kerja (PUK) dimana perawat turut bergabung menjadi anggota Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan-Reformasi (FSP FARKES-R):

DKI Jakarta

  1. Islam Jakarta Timur Pondok Kopi
  2. Islam Jakarta Pusat Cempaka Putih
  3. Islam Jakarta Utara Sukapura
  4. Sint Carolus, Jakarta Pusat
  5. Husada, Jakarta Pusat
  6. UKI, Jakarta Timur
  7. Atmajaya, Jakarta Utara

YOGYAKARTA

  1. Panti Rapih

JAWA TENGAH

  1. Telogorejo, Semarang
  2. William Booth, Semarang
  3. Sultan Agung, Semarang
  4. Islam, Klaten
  5. RSKB Islam Cawas, Klaten
  6. Islam Fatimah, Cilacap

MAKASSAR

  1. Islam Faisal
  2. Stella Maris
  3. Hikmah

MANADO

  1. Siti Maryam

LAMPUNG

  1. Immanuel
  2. Bumi Waras

 

Rating: 5.0/5. From 1 vote.
Please wait...

Satu tanggapan untuk “Perawat Indonesia Tak Perlu “Galau dengan Gaji Anda”, Solusinya Disini.

Tinggalkan Balasan

Translate »