Pekerjaan Layak Kunci Pekerja Sejahtera

A9259W linked hands

Dalam dunia internasional, pekerjaan layak ini sering disebut sebagai “decent work”. Inilah istilah yang dipakai untuk secara sederhana menggambarkan tentang pekerjaan yang seharusnya membuat pekerja dan keluarganya hidup sejahtera dan keluar dari garis kemiskinan, bukannya membuat pekerja bertahan dalam kemiskinan.

Seturut dengan konsep pekerjaan layak yang dikeluarkan oleh International Labour Organisation (ILO) atau Organisasi Buruh Dunia, pekerjaan layak adalah pekerjaan yang sifatnya produktif dan:

  • memberikan upah yang adil
  • keamanan di tempat kerja
  • perlindungan sosial bagi keluarga pekerja
  • kesempatan kerja dan perlakuan yang sama

 

Dan tidak kalah penting, pekerjaan layak seharusnya menyediakan jaminan masa depan yang lebih baik dalam kaitan pengembangan diri, integrasi sosial, kebebasan dalam berorganisasi dan bahkan memiliki hak untuk berpartisipasi dalam penentuan kebijakan.

Di dalam Pekerjaan Layak ini, terdapat pula hak mendasar seorang pekerja atas kebebasan berserikat dan hak untuk berunding. Mendasar, oleh karena melalui hak-hak yang sifatnya fundamental ini kepentingan pekerja dapat terpenuhi terkait dengan pekerjaan layak. Seorang pekerja dapat bergabung di dalam sebuah serikat pekerja yang kemudian memperjuangkan kesejahteraannya melalui perundingan bersama.

ILO, sebagai organisasi tripartit yang terdiri dari unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja, mendorong tercapainya pekerjaan layak ini dengan dua konvensi yang fundamental, yaitu No. 87 tentang Kebebasan Berserikat dan No. 98 tentang Perjanjian Kerja Bersama.

Kedua konvensi yang sudah diratifikasi di Indonesia ini diyakini akan menjadi penunjuk arah menuju “decent work”, sebab keduanya akan mendorong pekerja untuk memiliki suara, perwakilan, dan partisipasi dalam berunding. Melalui konvensi-konvensi di atas, pekerja difasilitasi melalui keberadaan perwakilannya di dalam proses dialog sosial, untuk mencapai solusi bersama atau kesepakatan bersama. Sementara itu, dalam waktu bersamaan kedua belah pihak dapat saling menghargai kebutuhannya masing-masing.

Tidak seperti undang-undang yang dibuat oleh negara, kesepakatan yang dituangkan menjadi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ini juga disinyalir dapat meningkatkan kerja sama antara pekerja dan pemberi kerja. Sebab perjanjian ini dibuat melalui proses negosiasi dan adanya kesepakatan kedua belah pihak.

Kesimpulannya, Kebebasan Berserikat dan Perjanjian Kerja Bersama ini adalah kunci utama pencapaian pekerjaan layak dimaksud. Keduanya adalah kebijakan pengembangan yang yahud untuk memastikan sejumlah besar pekerja dalam kondisi yang layak dalam turut berperan dalam pembangunan ekonomi domestik, sebab kondisi “kantong pekerja” atau uang yang ada pada pekerja memperkuat perkembangan ekonomi domestik dan stabilitas bangsa. Tinggal bagaimana peraturan ini dapat diimplementasikan dengan baik.

 

Pekerjaan Layak vs Pertumbuhan Ekonomi

Banyak kalangan berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi suatu bangsa bergantung pada pemilik modal dan kepiawaian pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakannya.

Dengan besarnya jumlah modal yang diinvestasikan dalam sebuah perusahaan, seorang pengusaha telah merasa berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan turut membangun pertumbuhan ekonomi. Pengusaha pun sudah merasa turut berpartisipasi dalam pembangunan melalui pajak yang dibayarkan kepada negara.

Tidak pernah terpikirkan oleh khalayak, bukan hanya pengusaha dan pemerintah namun pekerja pun memiliki andil yang besar dalam membangun perekonomian bangsa. Dengan jumlah berkisar 60% dari seluruh jumlah penduduk, pekerja patut diperhitungkan perannya dalam upaya pengembangan ekonomi. Maka, sudah layak dan sepantasnya jika pekerja diberikan perhatian khusus sehingga perannya dapat dioptimalkan.

Berapa besar perbandingan jumlah pekerja dengan pemberi kerja di negeri ini? Berapa besar perbandingan jumlah pekerja kerah putih dan pekerja kerah biru? Atau berapa besar perbandingan pekerja yang hidup di kelas menengah ke atas, kelas menengah, dan kelas menengah ke bawah? Atau lebih sederhananya, berapa jumlah konglomerat di negeri ini jika dibandingkan dengan jumlah pekerja.

Belum lagi jika dirunut dari kebiasaan orang kaya dengan orang “tidak kaya”. Bukan bermaksud sinis, tetapi dalam mengkaji peran masing-masing dalam membangun perekonomian negara, sejauh mana barisan “orang kaya” ini turut memberi andil.

Jika pekerja diibaratkan sebagai masyarakat golongan bawah, dan pengusaha (dan atau birokrat) sebagai orang kaya, maka mari cermati beberapa hal berikut:

  • Kalangan pekerja menghabiskan uangnya di pasar domestik. Mulai dari kebutuhan pangan dan sandang. Sementara itu, orang kaya lebih suka membeli makanan dan pakaian kelas atas atau bermerk. Lebih sering, makanan dan pakaian bermerk ini adalah produk impor yang keuntungannya pun dinikmati pengusaha luar negeri.
  • Pekerja menghabiskan waktu luang atau berlibur di tempat-tempat rekreasi lokal di dalam negeri, yang mengakibatkan tumbuhnya perekonomian daerah setempat. Sementara itu, orang kaya lebih suka berlibur ke luar negeri.
  • Bahkan dalam kaitan menyimpan uang, orang kaya lebih suka menyimpan uangnya di bank-bank luar negeri. Sementara sejumlah besar pekerja lebih banyak menghabiskan uang yang jumlahnya “pas-pasan” untuk kebutuhan sehari-hari di dalam negeri.
  • Barang-barang bermerk yang diproduksi oleh perusahaan rantai global tidak terbeli oleh sejumlah besar pekerja di Indonesia. Selain karena barang-barang ini dipasarkan di luar negeri, upah pekerja di Indonesia tidak “didisain” untuk kebutuhan pada tingkat itu. Coba tilik bagaimana pemerintah menentukan komponen sandang di dalam upah minimum, berapa harga satuan kemeja yang ditentukan di dalamnya.

 

Mengaitkan dengan beberapa hal di atas saja, sudah dapat diambil kesimpulan seberapa besar peran pekerja dalam pengembangan ekonomi negeri ini. Apalagi jika ditambahkan peran para penggerak usaha mikro, para pekerja informal di dalam usaha kecil-menengah.

Di sini lah letak pentingnya decent work atau pekerjaan layak ini. Semakin layak kondisi pekerja beserta pekerjaannya, maka semakin kuat lah pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi.

Jika pemerintah dan pengusaha terus mendorong tercapainya pekerjaan layak dan mempertimbangkan kondisi pekerjanya, maka tidak heran jika negeri ini mampu menjadi negeri yang kuat dan mandiri.

Terbalik dengan kondisi yang seharusnya, pekerja yang terus berjuang menuju “decent work” justru dituding sebagai penghancur ekonomi bangsa. Banyak tudingan dilancarkan terhadap pekerja di Indonesia terkait dengan keluar masuknya para investor ke negeri ini.

Pekerja dianggap menjadi penghalang masuknya investor asing terkait dengan perjuangan serikat pekerja pada kenaikan upah minimum. Pun, tanggungjawab dibebankan kepada pundak pekerja ketika investor yang hengkang dari negeri ini dikaitkan dengan ancaman angka pengangguran yang tinggi. Plus, keberpihakan pemerintah yang tidak ramah pekerja. Pemerintah lebih memilih untuk “abai” dan tidak menomorsatukan kebutuhan pekerja yang selayaknya diperlakukan istimewa sebagai pejuang ekonomi bangsa, dengan membuat peraturan yang cenderung “mengenyangkan” pengusaha yang notabene mayoritas justru merupakan pengusaha asing dan bukan anak bangsa.

Patutlah jika pekerja di Indonesia diibaratkan sebagai seseorang yang jatuh, tertimpa tangga, dan digigit buaya. Kondisi yang sangat memprihatinkan ini bahkan hanya disadari oleh sebagian kecil pekerja, sehingga hal ini menjadi tantangan yang berat bagi pekerja dan serikat pekerja yang sudah ada untuk terus memperjuangkan pekerjaan layak demi terjaganya martabat bangsa ini.

 

SERUAN UNTUK PEKERJA DI INDONESIA

Sudah saatnya pekerja Indonesia membuka mata dan berjuang bersama demi sejahteranya anak bangsa. Hanya dengan bergabung bersama serikat pekerja, suara pekerja dapat didengar. Maka, jangan ragu dan gentar… hidup layak dan sejahtera bukan sekedar impian belaka! BANGKIT MELAWAN ATAU DIAM TERTINDAS!

 

tim media

 

 

No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Translate »