Jadikan Serikat Pekerja Kebutuhan, Bukan Keterpaksaan

UtamiJadikan Serikat Pekerja Kebutuhan, Bukan Keterpaksaan”We must learn to live together as brothers or we are going to perish together as fools.”

-Marthin Luther King Jr.-

“Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau kita akan binasa bersama-sama sebagai orang bodoh.” Ini adalah kalimat terkenal dari Marthin Luther King Jr.

Dari Marthin kita belajar. Jika kebersamaan akan menguatkan, maka kesendirian akan mematikan. Itulah sebabnya, salah satu yang harus dilakukan oleh pekerja agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik adalah dengan berserikat.

Pepatah mengatakan: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tanpa serikat, pekerja hanya akan mejadi individu yang berdiri sendiri. Tetapi dengan berserikat, pekerja akan menjadi satu komunitas yang saling menjaga. Jika ada salah satu yang dinistakan, maka yang lain akan melakukan pembelaan.

Berserikat adalah hal yang alamiah. Bahkan hewan pun melakukannya. Mereka hidup berkelompok.

Sebagai contoh, kehidupan Gajah. Mereka sering membentuk formasi “A” untuk melindungi anggotanya yang masih kecil atau lemah. Pun misalnya dengan burung-burung Flaminggo yang bergerombol saat terbang dan membentuk formasi “V” untuk memecah angin agar mereka dapat terbang jauh.

Maka dari itu, berserikat adalah keniscayaan semua mahluk. Tak terkecuali manusia.

Sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan sangat membutuhkan pertolongan orang lain, manusia membutuhkan serikat untuk mencapai tujuan bersama. Begitu pula dengan para pekerja, perlu berserikat untuk memberikan perlindungan, pembelaan, serta memperjuangkan kesejahteraan.

Keberadaan dan pentingnya serikat pekerja selalu mengikuti perkembangan perusahaan. Tanpa perusahaan, tidak akan ada pekerja, dan karena itu  tidak akan ada serikat pekerja.

Bila perusahaan mengakumulasi kapital sebagai kekuatan mereka, maka jalan bagi serikat pekerja untuk mengimbanginya adalah melalui akumulasi massa yang solid, massif, dan terorganisir dengan baik.

Dengan begitu, serikat pekerja akan dipandang hormat oleh pengusaha bukan karena belas kasihan. Namun karena kapasitasnya sebagai mitra pengusaha.

Dalam serikat, pekerja menegaskan bahwa mereka memiliki peran penting. Para pekerja seperti hendak menegaskan bahwa roda produksi tidak akan berputar tanpa ada hubungan yang sejajar antara pekerja dan pengusaha.

Bersama serikat, pekerja mempunyai kemampuan mengawasi kebijakan perusahaan yang menyangkut nasib semua pekerja. Dalam hal ini perusahaan tidak boleh semena-mena. Setiap kebijakan harus dirundingkan terlebih dahulu. Sehingga kebupusan yang diambil tidak saja baik untuk pengusaha, tetapi juga baik untuk pekerja.

Melalui serikat pekerja yang teroganisir dengan baik, semua tuntutan akan kesejahteraan seperti aturan waktu jam kerja, cuti, bonus, gaji, fasilitas materi atau renumerasi yang dibutuhkan pekerja akan lebih mudah didapatkan. Karena pekerja tidak perlu memperjuangkannya sendiri-sendiri. Ada serikat pekerja yang mengadvokasi juga hak-hak itu tidak dipenuhi.

So, mari jadikan serikat pekerja sebagai kebutuhan, bukan keterpaksaan…

Author : Utami ( Aktivis FSP Farkes Reformasi )

Rating: 4.5/5. From 2 votes.
Please wait...

Satu tanggapan untuk “Jadikan Serikat Pekerja Kebutuhan, Bukan Keterpaksaan

Tinggalkan Balasan

Translate »