Pandemi COVID -19 Menyadarkan Bahwa Lemahnya Sektor Kesehatan di Indonesia

IMG-20200629-WA0016

Jakarta, FarkesOnline – Pandemi COVID -19 mulai menyerang Indonesia di awal Maret 2020, dengan kasus Positif Pasien Pertama (01), dan dari situlah awal mulai peperangan dengan virus corona.

Berbagai upaya di lakukan Pemerintah dengan membuat berbagai kebijakan, tim khusus dalam penanganan memutus rantai penyebaran COVID -19.

Dari berbagai regulasi, kebijakan, tindakan yang dilakukan Negara, pro kontra pun terjadi, entah itu yang berbau politis ataupun tidak.

Tetapi dari berlangsungnya pandemi COVID -19 sampai hari ini, dari berbagai data yang ada, dan dari fakta dilapangan, ini semua menyadarkan bahwa sektor Kesehatan di Indonesia lemah.

Kesehatan merupakan salah satu modal manusia (human capital) yang sangat diperlukan dalam menunjang pembangunan ekonomi. Hal ini dikarenakan kesehatan merupakan prasyarat bagi peningkatan produktivitas.

Baca Juga : Farkes Reformasi Mengkritik Keras Pemerintah Mengenai Rapidtest Yang Dibebankan Kepada Rakyat.

Pembangunan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat, dan perbaikan pada kondisi kesehatan masyarakat akan mempengaruhi produktivitas kerja.

Dan Pandemi COVID -19 ini menyadarkan kita semua bahwa lemahnya sektor Kesehatan di Indonesia. Beberapa Indikator lemahnya Sektor Kesehatan di Indonesia, diantaranya :

1) APBN yang kurang maksimal dibandingkan negara negara lain di Asia.

2) Tindakan Promotif dan Preventif kurang maksimal. Sosialisasi mengenai tindakan Preventif/pencegahan masih kurang.

3) Lemahnya Sektor Industri Farmasi (Obat).
Indonesia memang mempunyai industri farmasi milik Negara, tapi kita lupa jika bahan baku yang digunakan untuk kebutuhan industri farmasi 95 % IMPOR. Dan hampir 80-90 % Industri Farmasi Pemiliknya Asing.

4) Lemahnya Sektor Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit)
Dengan jumlah rasio tempat tidur Rumah Sakit di Indonesia 1,17 per 1000 penduduk, ini jelas membuat banyak problematika timbul apalagi di masa Pandemi ini.

5) Sistem Kesehatan belum maksimal dan serius.
Adanya BPJS Kesehatan sebenarnya bisa menjadi pondasi perubahan sistem Kesehatan di Indonesia, namun sangat disayangkan tidak di imbangi dengan keberpihakan instansi pemerintah lainnya. Sebagai contoh, Kurang tegasnya terhadap Industri yg limbahnya tidak diolah sesuai prosedural sehingga mencemari lingkungan yg berakibat pada polusi dan kesehatan masyarakat sekitar.

6) SDM sektor Kesehatan yang dinilai belum maksimal.
Jumlah Tenaga Medis ataupun Penunjang Medis masih belum mencukupi untuk memenuhi fasilitas kesehatan. Perhatian Pemerintah terkait Tenaga Kesehatan sangat diperlukan, melalui regulasi, pelatihan dan pendidikan yang mungkin bisa difasilitasi, agar paradigma mengenai biaya yang mahal untuk pendidikan kesehatan dan birokrasi keprofesian yang juga ada biaya, belum lagi saat terjun di dunia kerja, mereka statusnya Outsourcing atau PKWT ditambah Upah dibawah Upah Minimum.

Semoga Pandemi COVID -19 cepat berlalu, dan memberikan hikmah kepada Pemerintah agar mengevaluasi di Sektòr Kesehatan pada khususnya dan juga sektor lainnya.

No votes yet.
Please wait...
Voting is currently disabled, data maintenance in progress.

Tinggalkan Balasan

Translate »