Strategi Rumah Sakit dalam menghadapi Tarif INA CBGs

Apa-Ayang_Dimaksud_Dengan_INA_CBGsJakarta, FarkesOnline-Didalam peraturan BPJS Kesehatan, PERPRES nomor 12 tahun 2003 tentang jaminan kesehatan, pasal 39 tentang cara pembayaran fasilitas kesehatan.Tertuang di dalamnya, bahwa BPJS akan membayar fasilitas kesehatan secara prospektif.Ada 2 pembayaran BPJS sesuai aturan tersebut yaitu secara Kapitasi atau INA CBGs.Untuk pembayaran secara kapitasi adalah salah satu metode pembayaran fasilitas yang dipilih untuk membayar fasilitasi kesehatan primer atau disebut fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).Sistem kapitasi ini adalah cara pembayaran oleh BPJS kepada FKTP untuk pelayanan yang diselenggarakannya, yang besar biayanya tidak dihitung berdasarkan jenis ataupun jumlah pelayanan kesehatan yang diselenggarakan untuk setiap pasien, melainkan berdasarkan jumlah pasien yang menjadi tanggungannya.

Kemudian pembayaran BPJS yang kedua adalah dengan sistem INA CBGs ( Indonesia Case Base Groups)merupakan sistem pembayaran dengan sistem “paket”, berdasarkan penyakit yang diderita pasien.Rumah Sakit akan mendapatkan pembayaran berdasarkan tarif INA CBGs yang merupakan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh untuk suatu kelompok diagnosis.Tapi dengan adanya ina cbgs ini masih banyak rumah sakit yang belum memahaminya dan menganggap merugikan.Hal ini terjadi karena, RS terbiasa dengan sistem pembayaran pay-for-service sebelumnya, dan sekarang harus menyesuaikan diri dengan INA-CBGs yang cost effective. Rumah Sakit harus lebih bijak mengelola keuangan dengan pola INA CBGs, karena bisa jadi tarif terlihat kecil karena ada beberapa tindakan yang tidak cost efektif atau masih adanya tindakan yang tidak perlu dilakukan pada pasien mengambil porsi biaya yang cukup besar dari paket tersebut.

Misalnya, seorang pasien menderita demam berdarah. Dengan demikian, sistem INA-CBG sudah “menghitung” layanan apa saja yang akan diterima pasien tersebut, berikut pengobatannya, sampai dinyatakan sembuh atau selama satu periode di rawat di rumah sakit. Sistem pembayaran menggunakan Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs) yang digunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak akan merugikan rumah sakit (RS) karena sebagian besar tarifnya diatas standar. Tarif cuci darah atau dialisis, misalnya, di RS kelas C Rp450-600 tapi di INA-CBGs dibayar Rp900 ribu, bahkan di RS kelas A dibayar Rp1,3 juta.
ALUR INA CBGDengan menggunakan sistem itu, maka perhitungan tarif pelayanan lebih objektif berdasarkan pada biaya sebenarnya. Melalui INA-CBG’s diharapkan dapat meningkatkan mutu dan efisiensi rumah sakit.

Berikut Strategi mengurangi biaya (costs) yang harus dilakukan rumah sakit dengan adanya INA CBGs :

  1. Audit Manajemen :
    Perlu dilakukan RS ,karena perusahaan asuransi kesehatan juga akan lakukan audit. Manajemen harus menilai potensi risiko yang terjadi .Manajemen juga harus memonitor deadlines klaim yang harus diajukan, begitu pula terhadap collecting period,bila perlu lakukan root cause analysis
  2.  Managemen mutu dan biaya klinik :
    – Identifikasi berbagai cara untuk lakukan penghematan dalam penggunaan utilitas maupun sumber daya.
    – Identifikasi berbagai cara untuk mengoptimalkan revenue.
    – Memberikan pelayanan dan mempertahankan keselamatan pasien sangat efektif menekan biaya.
  3.  Electronic Data Interchange EDI :
    Sistim ini akan mengurangi biaya secara signifikan dan kesalahana,menjaga kepatuhan membuat klaim dan proses reimbursement yang memenuhi syarat klaim.
  4.  Perbaiki Kinerja dan Analsis Data :
    Evalusi kinerja dilakukan dengan benchmarking RS yang setara tentu menggunakan alat analitik. Fokus pada area peningkatan revenue dan pengurangan biaya tanpa mengurangi mutu layanan.
  5. Perhatikan Indikator Operasional
    – Evaluasi productivitas secara ketat
    – Reviu facilitas – fasilitas dengan baiya yang besar
    – Identifikasi area-area yang dapat dihemat biayanya
    – Kreasikan sistem insetif kompensasi
    – Menilai kembali struktur salary ,lembur karyawan
    – Bandingkan finansial anda dgn peer group financials.
  6. Manajemen Revenue :
    – Lakukan effisiensi dan kurangi costs dalam siklus revenue, dari kelola akses sampai verifikasi yang memenuhi syarat sampai pembayaran.
    – Pastikan pembayaran dari setiap pelayanan yang telah diberikan.Kurangi tunggakan pembayaran dan write-offs.
    – Perbaiki kinerja keuangan dgn kurangi biaya administrasi dan operasional melalui proses bisnis outsourcing.
  7. Pelatihan dan Pendidikan :
    Lakukan pendidikan dan pelatihan untuk peahaman dan kemampuan staf RS dalam coding dengan gunakan materi materi “Coder education Book Series ICD 9 CM and ICD 10 “
  8. Strategic Planning and Financial Management:
    Manfaatkan konsultan yang dapat menolong RS mengidentifikasi dan implementasi cost reduction strategies, meningkatkan produktivitas melalui revenue cycle, memanfaatkan investasi sistem IT sebagai pendukung.
  9. Meningkatkan Mutu Klinis :
    Libatkan dokter dan lakukan evaluasi pengorganisasian dan clinical workflows . Perubahan yang terjadi harus dikaji manajemen risiko dan disetujui olleh pimpinan RS. Reviu yang bijaksana, analisis dan best-practice implementation, anda akan sukses memberikan layanan yang bermutu dan menjaga revenue.
  10. Koordinasi Tim adalah isu kritis sukses tidaknya cost reduction initiative within a hospital setting. Tim terdiri dari staf Klinis, Sistem Informasi Manajemen , Manajemen Keuangan ,Staf Profesional, Pembiayaan Kesehatan sangat berperan dalam Rumah Sakit.

Dengan demikian persaingan sehat  antar dokter dan rumah sakit terjadi berdasarkan kualitas layanan, bukan lagi berdasarkan pada tarif. Sehingga Tujuan sistem INA CBG’s untuk mendorong peningkatan mutu, mendorong layanan yang berorietasi pasien, mendorong efisiensi, tidak memberikan reward kepada provider yang melakukan over treatment dan mendorong untuk terlaksananya pelayanan tim (berupa koordinasi atau kerjasama antar provider) dapat terwujud.

Tapi bisa disimpulkan bahwa kesalahannya bukan pada sistem utam ina cbgs, tapi pada sub sistem-sub sistemnya, dan pihak rumah sakit pun harus bisa mengelola atau memanajerial sumber daya yang ada bukan mengkambinghitamkan pihak ketiga saja.Adapun yang perlu di evaluasi dari tarif ina cbgs ini terkait dengan rumah sakit swasta, karena pada rumah sakit pemerintah itu mendapatkan subsidi untuk alkes dan obat-obatan sedangkan rumah sakit swasta tidak, jadi pemerintah melalui menteri kesehatan dan tim lainnya harus mengevaluasi kembali tarif ina cbgs ini agar terjadi keseimbangan keuntungan antara rumah sakit swasta dan pemerintah.Jika permasalahan ini tidak kunjung diselesaikan oleh pemerintah dampaknya akan ke buruh/pekerja di bidang kesehatan.Dan sebagai masukan dari penulis, diharapkan BPJS dan Pemerintah mensosialisasikan kembali kepada rumah sakit dan FKTP dan buruh di Indonesia terkait dengan sistem INA CBGs, agar semua memahami prosedur yang ada di INA CBGs.

Sebagai  tambahan, silahkan download tarif INA CBGs yang terbaru PMK Nomor 64 Tahun 2016.

Rating: 5.0/5. From 1 vote.
Please wait...
Voting is currently disabled, data maintenance in progress.

Tinggalkan Balasan

Translate »